BAB HUKUM DASAR KIMIA
HUKUM DASAR KIMIA
Perlu Ananda ketahui bahwa
pada awal abad ke-18 para ilmuwan telah melakukan percobaan-percobaan yang
mempelajari secara kuantitatif susunan zat dari beberapa reaksi kimia. Mereka menemukan adanya keteraturan-keteraturan
yang dinyatakan sebagai hukum-hukum dasar kimia. Hukum dasar kimia yang akan
dibahas di sini adalah Hukum Kekekalan Massa (Lavoisier), Hukum Perbandingan
Tetap (Proust), Hukum Kelipatan Perbandingan (Dalton), Hukum Perbandingan Volum
(Gay Lussac), dan Hipotesis Avogadro.
1. Hukum Kekekalan Massa (Hukum Lavoisier)
Perhatikan reaksi pembakaran kertas. Sepintas lalu dapat
kita lihat bahwa massa abu hasil pembakaran lebih kecil daripada massa kertas
yang dibakar.
Apakah pembakaran kertas disertai pengurangan massa? Antoine
Laurent Lavoisier telah menyelidiki massa zat-zat sebelum dan sesudah
reaksi. Lavoisier menimbang zat sebelum bereaksi, kemudian menimbang hasil
reaksinya. Ternyata massa zat sebelum dan sesudah reaksi selalu sama.
Perubahan materi yang kita
amati dalam kehidupan sehari-hari umumnya berlangsung dalam wadah terbuka. Jika
hasil reaksi ada yang berupa gas (seperti pada pembakaran kertas), maka massa
zat yang tertinggal menjadi lebih kecil daripada massa semula. Tetapi jika gas
yang dihasilkan pada pembakaran kertas juga ditimbang massanya, maka massa
zat-zat hasil reaksi akan sama dengan sebelum reaksi.
Ananda dapat lihat data hasil
reaksi antara Pb(NO3)2 dengan KI dalam wadah tertutup
menghasilkan PbI2 dan KNO3 pada Tabel 1.
Tabel 1. Data percobaan massa
zat sebelum dan sesudah reaksi
Dari
data percobaan tersebut dapat diketahui massa zat sebelum dan sesudah reaksi
tidak ada perubahan. Hal tersebut membuktikan Hukum Kekekalan Massa.
“Di dalam suatu
sistem tertutup, massa zat-zat sebelum reaksi sama dengan massa zat sesudah
reaksi”.
Contoh
soal:
Superfosfat adalah pupuk yang mudah larut dalam air. Pupuk
ini merupakan campuran antara Ca(H2PO4)2
dengan CaSO4 dengan perbandingan jumlah molekul 1 : 2. Pupuk ini
dibuat melalui reaksi berikut:
Ca3(PO4)
+ 2H2SO4 → Ca(H2PO4)2 +
2CaSO4
Jika 300 g Ca3(PO4)2 bereaksi sempurna dengan 189,7 g
H2SO4, berapa massa pupuk superfosfat yang dihasilkan?
Penyelesaian:
Ca3(PO4)
+ 2H2SO4 → Ca(H2PO4)2 +
2CaSO4
300
g 189,7 g
Berdasarkan hukum kekekalan massa, massa zat sebelum
reaksi sama dengan massa zat sesudah reaksi. Jadi, massa pupuk superfosfat yang
dihasilkan
=
Ca3(PO4) + 2H2SO4
=
300 g + 189,7 g = 489,7 g
2. Hukum Perbandingan Tetap (Hukum Proust)
Senyawa yang sama meskipun berasal dari daerah berbeda
atau dibuat dengan cara yang berbeda ternyata mempunyai komposisi yang sama.
Contohnya, hasil analisis terhadap garam natrium klorida dari berbagai daerah
sebagai berikut.
Sebagaimana ditunjukkan dalam perhitungan
di atas, bahwa perbandingan massa Na terhadap Cl ternyata tetap, yaitu 1 :
1,54. Jadi, senyawa tersebut memenuhi hukum Proust.
“Perbandingan massa unsur-unsur dalam suatu senyawa adalah tetap.”
3. Hukum Kelipatan Perbandingan (Hukum Dalton)
Hukum Proust dikembangkan lebih lanjut oleh para ilmuwan
untuk unsur- unsur yang dapat membentuk lebih dari satu jenis senyawa. Salah
seorang di antaranya adalah John Dalton (1766 – 1844). Dalton mengamati
adanya suatu keteraturan yang terkait dengan perbandingan massa unsur-unsur
dalam suatu senyawa. Untuk memahami hal ini, perhatikan tabel hasil percobaan
reaksi antara nitrogen dengan oksigen berikut.
Tabel
2. Reaksi antara Nitrogen dan Oksigen
Dengan
massa oksigen yang sama, ternyata perbandingan massa nitrogen dalam senyawa
nitrogen dioksida dan senyawa nitrogen monoksida merupakan bilangan bulat dan
sederhana.
|
Massa nitrogen dalam senyawa
nitrogen dioksida |
= |
1,75 gram |
= |
2 |
|
|
Massa nitrogen dalam senyawa
nitrogen monoksida |
0,87 gram |
1 |
|
“Jika dua jenis unsur bergabung membentuk lebih dari satu senyawa,
dan jika, massa salah satu unsur dalam senyawa tersebut sama, sedangkan massa
unsur lainnya berbeda, maka perbandingan massa unsur lainnya dalam senyawa
tersebut merupakan bilangan bulat sederhana.”
Contoh soal:
Karbon
bereaksi dengan oksigen membentuk senyawa A dan B dengan komposisi sebagai
berikut:
Senyawa
A : 2,41 g karbon dan 3,22 g oksigen
Senyawa
B : 6,71 g karbon dan 17,9 g oksigen
Tentukan
angka banding karbon yang paling sederhana yang bereaksi dengan oksigen dengan
massa yang sama.
Penyelesaian:
Karbon Oksigen
Karbon : Oksigen
Senyawa
A 2,41 3,22 1
: 1,33 =
0,75 : 1
Senyawa
B 6,71 17,9 1
: 2,67 =
0,37 : 1
Jadi,
perbandingan jumlah atom C dalam senyawa A dan senyawa B adalah 2 : 1.
4. Hukum Perbandingan Volum (Hukum Gay - Lussac)
Pada tahun 1808 Josep Louis Gay Lussac dari Perancis
menyelidiki hubungan antara volum gas-gas dalam suatu reaksi kimia. Ia
menemukan bahwa pada suhu dan tekanan yang sama, satu volum gas oksigen
bereaksi dengan dua volum gas hidrogen menghasilkan dua volum uap air.
Dari data percobaan tersebut Gay Lussac
menyimpulkan:
“Pada suhu dan tekanan yang sama, volume gas-gas yang bereaksi dan
volume gas-gas hasil reaksi berbanding sebagai bilangan bulat dan sederhana.”
Berikut
contoh perbandingan volum pada reaksi-reaksi gas pada kondisi (suhu dan
tekanan) yang sama.
a)
H2 (g) + Cl2
(g) → 2HCl(g)
Perbandingan volum gas H2
: Cl2 : HCl = 1 : 1 : 2
1 vol 1
vol 2 vol
b) 2 NH3 (g) → N2
(g) + 3 H2 (g) Perbandingan volum NH3 : N2 : H2 = 2 : 1 :
3
2 vol 1 vol 3 vol
Hukum ini hanya berlaku untuk reaksi-reaksi gas yang susunan
molekulnya sederhana. Hukum perbandingan volum ini diperoleh semata-mata dari
hasil percobaan. Berdasarkan hukum ini, kita dapat menghitung volum gas pada
suatu reaksi, jika volum salah satu gas diketahui.
Contoh soal:
Salah satu komponen gas elpiji yang biasa digunakan dalam
kegiatan rumah tangga adalah gas propana (C3H8). Pada
suhu dan tekanan tertentu, gas propana terbakar sempurna dengan oksigen menurut
reaksi berikut:
C3H8(g) + 5O2(g) → 3CO2(g) + 4H2O(g)
Bila reaksi ini memerlukan 3 L gas
oksigen, berapa volume C3H8 yang bereaksi dan gas-gas
lain yang dihasilkan?
Penyelesaian:
Persamaan reaksi:
C3H8(g) + 5O2(g)
→ 3CO2(g) + 4H2O(g)
? 3 L
Perbandingan volume = perbandingan
koefisien.
=
→
=
Volume C3H8 = x 3
L = 0,6 L
5. Hipotesis Avogadro
Hipotesis Avogadro berbunyi :
“Pada suhu dan tekanan yang sama, semua gas bervolume sama
mengandung jumlah molekul yang sama pula”.
Berdasarkan hipotesis
tersebut Ananda dapat menentukan jumlah molekul gas lain, jika volumnya
diketahui.
Contoh Soal :
Gas nitrogen dan gas
hidrogen dapat bereaksi membentuk gas amoniak (NH3) pada keadaan
tekanan dan suhu yang sama. Jika 40 molekul gas nitrogen, berapa molekul gas
hidrogen yang diperlukan dan berapa molekul gas NH3 yang dihasilkan?
MATERI
Hukum Dasar Kimia oleh Ardila Kusumawati Hukum Dasar Kimia (PENEMU) oleh Ardila Kusumawati LATIHAN
LKPD
Komentar
Posting Komentar